Bahasa Kasar

Oktober 5th, 2011 by tatowillem

Akhir2 ini, aku jadi suka menggunakan kalimat2 kasar yang tadinya jarang dipakai, berhubung masyarakat “koruptor” Indo tambah ngaco maka jangan kaget kalow keluar bahasa seperti : Majelis Syetan Senayan (DPR), @sosiasi Malaikat (masyarakat peduli-anti korupsi), Binatang Pemerintah (kabinet SiBY), kelompok Syetan Tidur (masyarakat yang apatis), Arab ngojay (masyarakat keturuna Arab), Bento (alm. Soeharto). Untuk sementara segitu dulu, nanti juga akan bertambah.

turis dari CILACAP

April 20th, 2010 by tatowillem

Adalah dua orang pemuda, sebut saja si Tom Hunter dan Silaen. Mereka terbius oleh rekan2nya yang sudah jadi “kuli” di Eropa kok mereka pada nyaman saja tuh, dan kiriman euro-nya lancar2 saja.

Dengan tekad yang bulat, aku dan Silaen bikin passport dan urus visa itu ternyata hal yang gampang, asal ada pulus, mereka yang jual jasa ini berlimpah ruah, tinggal pilih iklan dari salah satu surat khabar ibukota. Kami pilih paket lengkap lewat agen sebut saja p’ Dawet Seniman orang Tangerang, dengan visa turis ke salah satu negara Schengen. Total biaya plus uang saku sekitar 95 juta rupiah saja. Rencana semula sih negara tujuannya adalah Australia, setelah nunggu lama untuk visanya dan ternyata gagal, kami di iming2 gaji 1200 Euro untuk bekerja di hotel di negara…Yunani. Tiket sudah di tangan dengan skedul penerbangan: Jakarta- Hongkong- Frankfurt Jerman. pada tanggal 9 Desember 2009.

Penerbangan Jkt - Hongkong biasa saja. Tiba di Hongkong jam 6 sore, dan kami termasuk penumpang transit menunggu 8 jam untuk jadwal penerbangan berikutnya. Pengalaman pertama dipesawat maskapai Catay Pacifik ini menyebalkan, disamping kanan tempat dudukku ada seorang pemuda asal China yang tidak bersahabat, saat makan malam, tanganku nyenggol tangannya, maklum tempat duduknya pas2an dan saya spontan minta ma’af, eh dia tidak terima, seperti menantang untuk berkelahi….wah aku naik pitam..”.lu jual gue beli”..gua geram, tetapi seorang ibu2 kebangsaan Jerman dengan sigap melerai kami yang duduk disamping pemuda China tersebut, sehingga bogem mentahku tidak jadi mendarat. Tiba di Frankfurt kira2 subuh dan rencana perjalanan berikutnya kami akan lewat darat menuju Thesaloniki, Greece (Yunani), sesuai dengan perintah agen Dawet Seniman (…kok goblognya aku nurut saja, habis kenapa tidak pakai rute Jkt - Hongkong - Athens). Kami bertanya pada salah seorang Jerman yang lalu lalang di airport, dimana tempat stasiun kereta api, dia bingung karena tidak bisa berbahasa Inggris, akhirnya aku langsung keluar dan bertanya pada salah seorang sopir taxi dan naik mobilnya untuk diantar ketempat tujuan.

Kami beli tiket KA dengan tujuan kota Wien Wesbanof di Austria. Di KA, kami ditanya Kondektur KA tersebut….Where are going gentleman ? to Thesanoliki Sir !…. Are you crazy ?? Frankfurt - Greece is thousand kilometers..and you prefer by train…God Bless You ! Spontan saya jawab : Amin ! Perjalanan Frankfurt - Wien Wesbanof ditempuh dalam waktu 7 jam, kami disini cukup lama menunggu jadwal KA ke kota Budapest, Hongaria. Di Budapest kami transit selama 5 jam, untuk dilanjutkan ke kota Serbia. Kami tidak mengira didalam KA tsb. kami diperiksa polisi Serbia, dan diturunkan di Subotica sebelum kota Beograd digiring pakai senapan seperti halnya teroris dari Indonesia yang mau mengacau negara Serbia, polisi Serbia yang minim berbahasa Inggris, untung ada seorang polisi wanita yang mengerti….terjadilah dialog berikut ini.

Where are you going Sir ? …Thesanoliki. P (Polisi) : ..my country probihited for your’s as Indonesian citizen by Shengen visa’s !…Why ?..P :.. because as well as Serbia is Europe continental but still excluded of Shengen country ! You have to have visa’s of Serbia if you want to go to my country !!…OH..saya bengong..pura2 tidak tahu, sebab kondisi sudah lemah, saya ditahan selama 9 jam, tanpa diberi makan-minum, pas musim dingin yang menggigil….P : OK..next 12 o’clok today, you together are going to Indonesian Embassy in Hongaria…..wah-wah, artinya saya harus kembali lagi…saya spontan jawab : no Madam…We are going to there ourself…because we have already know where the Indonesian Embassy is…

Selanjutnya kami balik lagi ke Hongaria dengan KA, sampai di Budapest kami cari taxi untuk menuju airport biar lebih cepat sampai ke Greece, melalui pesawat terbang. Ternyata harga tiket terlalu mahal…akhirnya saya putuskan untuk kembali ke kota Wien Wesbanof- Austria. Akhirnya saya terbang menuju kota Athens menggunakan pesawat Olympic yang relatif lebih murah.

Sampai di Athens jam 2 siang dan dijemput oleh agen Indo yang ada di Greece, yaitu sdr. Katon Bagonkaro. Selama 2 bulan nunggu untuk bekerja di hotel dengan gaji 1200 Euro tidak terealisasi…malahan kok saya diusir dengan alasan…yang sampai sekarang tidak dimengerti….oh….nasibku…

Bagaimana teman2 pemerhati yang harus saya lakukan ??  Bisakah anda bantu untuk tungtut agen sdr. Dawet Seniman di Tangerang ??  Biar saya ngurus agen gadungan sdr. Katon Bagonkaro yang di Athens ??

Ditunggu lho komentarnya !!   Wasallam. Tom Hunter.

Diceriterakan pada saya( Tato Willem), mereka sekarang masih tinggal di Athens sebagai “turis gembel dari Cilacap”.

Beri nama Mulyono

Februari 24th, 2010 by tatowillem

Apalah arti sebuah nama….kata seorang pujangga, ternyata akan lain jika anda baca berikut ini. 

Setiap teman saya yang namanya Mulyono, belum pernah ada yang mengecewakan, sesuai dengan arti harfiahnya dari kata mulia yang bisa diartikan orang terhormat.

Dulu ada acara di TVRI, “Berbahasa Indonesia yang baik dan benar”, salah satu pembicaranya adalah Anton Mulyono, yang berbicaranya amat santun, teratur, tenang. Lain lagi teman waktu di SMP Cimalaka, namanya Mulyana, maklum dari Parahiyangan, waktu bertemu lagi sesudah sama2 bekerja, profesi dia jadi seorang Guru, yang bawaanya juga tenang, seperti air mengalun. Sedang Eddy Mulyono lainnya adalah sama2 kerja di muara Badak, dia dibagian Warehause, orang yang paling besar badannya, tapi lincah dilapangan Badminton, kalau berbicara tenang dan kharismatik. Jika anda tinggal didaerah Buahbatu Bandung, didaerah dekat Kantor Bersama Sukarno-Hatta arah ke jalan Tol Padaleunyi, silahkan datangi Lapangan Badmintonnya, salah satu usaha beliau dimasa pengsiunnya, menyewakan lapangan olah raga Badminton.

Yang akan saya ceriterakan ini adalah dua teman saya yang satu tinggal di Balikpapan, dan satunya lagi di Athens. yang tinggal di Balikpapan ini namanya Antonius Mulyono. Pertama kenal, saya jumpa waktu bersama di ruang tunggu di Airport Sepinggan, menunggu keberangkatan Chopper dengan tujuan Muara Badak. Waktu itu saya lagi cari Duddy Hidayat berkeliling tengak tengok, tiba2 A. Mulyono mengingatkan saya bahwa Duddy H. ada di ruang tunggu lainnya. Padahal saat itu belum kenal dengannya, saya bergumam, siapakah orang ini ! Mata sorotnya tajam, tanda2 kebotakan sudah mulai kelihatan, keningnya lebar, rambutnya lurus, kok mau menolong saya ?

Ternyata si Mulyono Bppn ini, tahu siapa saya karena ada kepentingan dibalik itu, saat itu saya kerja di bagian HRD, setidaknya jika ada promotion untuk “jalan2″”ke Jawa pasti ketemu aku dalam urusan per-diem-nya. Disamping itu juga ternyata ada hubungan dengan Duddy Hidayat yang  pernah sama2 bekerja di Total, sebelum hijrah ke Roy Huffington.

Singkat cerita saya dan A. Mulyono bertambah akrab sering bertemu di Mesjid Al-Muhajirin, di lapangan kerja Muara Badak, dilanjutkan diskusi soal agama di baraknya, kadang2 berkumpul bersama teman lainnya sampai 8 orang, yang kebanyakan dari Jawa Timur, saya sendirian yang bukan dari Jatim, sehingga pembicaraan lebih dominan pakai bahasa daerah Jatim. Lama2 saya dongkol dan berucap : “dasar jawa keturunan ketek….ya bicara juga kaya kera !…habis aku tidak bisa berbahasa daerah jawa, meskipun kakak iparku ada yang dari Jawa. Bisa dibayangkan “”kera2″ itu mau marah sama saya, terutama si Mulyono itu..” apa kau bilang Mang !(sapaan akrab dia ke saya)…Saya timpal :..”iya kalian kaya monyet, ini berdasarkan ilmiah akhli purbakala dari UGM, Prof. Yakob yang menemukan tengkorak purbakala di daerah Muntilan..dan dinyatakan sebagai nenek moyang orang Jawa”  Akhirnya suasana jadi tenang kembali, mereka bisa terima ejekan saya dan semenjak itu mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar jika ada saya disitu.

Selang dua hari, A. Mulyono menyapa saya waktu salat dzuhur berjamaah di mesjid Al-Muhajirin,..”‘ To, nanti malam ke kamar saya, ada oleh2 dari Jawa ! ” OK, jawabku. Biasa jam 20-han sudah terkumpul sekita 8 orang, yang berbicara pertama A. Mulyono, :”To, sekarang aku tahu asal-usulmu…ok..timpalku…Kalian orang sunda itu adalah keturunan ASU !…Lho dari mana tuh penjelasan ilmiahnya ! Dia, si A. Mulyono bicara serius, tenang, …bahwa nenek moyang kamu dari Sangkuriang, dan ayahnya adalah si Tumang, se’ékor anjing buruan, yang suaminya putri Dayang Sumbi….semua orang tertawa terbahak, saya sendiri melakukan pembelaan : wah itu kan ceritera rakyat dari “Sasakala Tangkupan Perahu”, dan si Tumang itu adalah jelmaan seorang Dewa yang lagi menjalani hukuman…..Ah itukan asal-usul orang sunda…asu tetap aja anjing !! Saya tidak bisa berkutik karena satu lawan tujuh orang “kera”….hahahahahahaha…skor satu-satu.

Kalau A. Mulyono Balikpapan masih sebaya denganku, lain dengan Mulyono Athens, dia masih muda, baru 34-tahunan umurnya, tapi baiknya tidak ketulungan. Dia mau menolong migrant2 yang dalam kesulitan hidup…mana ada yang gratis hidup di Greece ? Semuanya perlu Euro, untuk makan, air, akomodasi, transportasi, tilpun, rokok dan biaya untuk membuat kelengkapan surat2 dsb, pokoknya harus punya kerjaan, jika tidak…ya siap ter-lunta2. Ini Eropa Bung !! Tidak seperti di Indonesia bisa tinggal dengan ortu sampai kapan saja jika punya muka kulit badak.

Sesudah ditolong, orang itu diarahkan untuk produktif, dia beli peralatan untuk jasa salon mobil, cari order ke keluarga Indonesia yang mempunyai kendaraan roda empat. Dari situ orang jadi punya penghasilan.  Waktu bertemu di salah satu pertemuan di rumah orang KBRI yang relatif pada makmur dan megah dan tidak mencerminkan kemakmuran rakyatnya, saya langsung bisa nyambung dalam hal  pembicaraan menggagas ide2  untuk mencari solusi mengatasi kesulitan hidup di Athens ini. Sekarang ini saya dan Mulyono Athens sedang menyusun program kerja untuk mengentaskan permasalahan2 keruwetan hidup untuk lebih baik dan bersaing sesama migrant dari negara lain, untuk bisa survival di negeri tempat dimana lahirnya seorang Kaisar Iskandar Agung.  Bravo pahlawan devisa !

Tanggal 14 Maret 2010, Mr. “M” Athens sudah mengumumkan cara mengumpulkan dana abadi pertamanya dengan istilah 2,5 G, yaitu 2,5 % dari Gaji bulanan disisihkan untuk haknya pakir miskin, uang yang sudah terkumpul sekarang sekitar 600 Euro dan sudah dicanangkan perorang perbulan bisa sisantuni sebesar 75 Euro. Tanggapan dari Masindo Athens cukup positif, malahan banyak yang spontan akan berikan uang 2,5 % nya dari gajinya untuk program ini. Sekarang yang pegang amanah ini Bapak Rayadi dari salah satu keluarga KBRI, dan orang yang spontan akan berikan bulanannya adalah Bapak OEmar Malawat, seorang Meneer kelahiran Belanda lho ! Tetapi keluarganya di Lumajang, Jatim. Tapi dasar si “M” ini ada yang kena sindiran dari ucapannya…”kita harus merasa jadi orang “kaya”…tapi ukurannya bukan punya rumah mewah..naik mercedes bens. Tetapi kaya hati, mau memberi kepada sesama yang lagi haus dahaga akan pertolongan kita, yang berarti baginya untuk survival bertahan hidup yang serba butuh akan euro….”

Akan ada kejutan program keduanya dan akan di umumkan Mr. “M” nanti tanggal 21 Maret 2010 jam 20.00 di KBRI, 99 Marathonodromon Street 15452 Paleo Psychico,  Athens. Memang “M” ini bawa berkah kemuliaan bagi sesama ummatNya… Amin…di bulan Maret Mulyono Membawa Mberkah Mbagi Masyarakat Mbanyak untuk U-Matnya. Walahu a’lam.

Arnold Schwarzenegger VS Awang Faroek

Februari 16th, 2010 by tatowillem

Aku sempat kaget melihat fotonya mereka lagi bersalaman sebelum “bertanding” di Los Angeles.

Dua2nya sama satu profesi, yang satu Gubernur California dan satunya lagi Gubernur Kalimantan Timur. Pak Arnold S. dapat cinderamata cincin permata merah delima asli dari Kalimantan, sedangkan Pak Awang F. dapat hadiah Anggota Tetap ke 11 - GCF 2009 ( Governor Climate and Forest 2009 ) yang “Workshop” nya diselenggarakan tgl. 28-29 September 2009  di LA ( ma’af, bukan Lenteng Agung, tapi Los Angeles). 

Dan dilanjutkan lagi dari tgl. 30 September sampai 2 Oktober 2009 ke sidang Governors’ Global Climate Summit ( GGSC) . Diikuti oleh 1200 peserta.  Pak Arnold S., Gubernur  California, sebagai penyelenggara menjelaskan ini sebagai ajang peningkatan kerja sama Pemerintah Daerah maupun Negara Bagian yang kaitannya untuk penanganan masalah perubahan iklim. Dari Indonesia selain Awang Faroek ada beberapa negara bagian lain diantaranya Gubernur Negara Bagian DKI, Aceh, Kalteng, Kalbar dls.

Ada beberapa pembahasan dalam pertemuan ini, singkatnya :

- Bekerja sama menstimulasi pertumbuhan ekonomi/lapangan kerja hijau, meningkatkan penggunaan energi bersih, mengurangi polusi.

- Menumbuhkan Ekonomi Hijau ( Green Economy ), mengurangi pemanasan global.

Pak Awang Faroek disertai oleh Prof.Dr.Ir. Daday Ruhiyat (urang Bandung euy) Staf akhli Gubernur Kaltim Bidang Pengolahan SDA dan Lingkungan Hidup.  Dengan kesadaran yang tinggi untuk menanggulangi  dampak negatif pemanasan global dan mengharapkan bisa dihindarinya masalah2 baru yang muncul seperti krisis pangan, gangguan ekosistem, ancaman sosial politik dan kewilayahan. Bukan main……

Seperti biasa disini saya akan berceritera latar belakang yang saya kenal siapa sebenarnya Pak Awang Faroek ini. Kebetulan waktu itu dalam “gerilya” saya di Samarinda saya kenal dari kolega dekatnya beliau. Waktu itu ada 2 Kabupaten yang “bersaing”, yaitu Kabupaten Kutai Timur, yang  Bupatinya Pak Awang Faroek dan Kabupaten Kutai Kertanegara yang Bupatinya Pak Syaukani yang kebetulan juga saya kenal beliau waktu diselenggarakan saresehan pemuda/i Muara Badak, di Muara Badak, Kutai Lama.

Pak Awang Faroek, seorang Bupadi yang disegani dan dihormati oleh masyarakatnya, dia selalu mengedepankan program nyata untuk rakyat yang dipimpinnya. Pertanian dan perikanan-lah yang ia prioritaskan. Saya sempat ditantang oleh koleganya….”to tuh pantai sepanjang 40 km layak untuk tambak udang, sanggup kamu datangkan investor ? atau ini yang kecil dulu..tuh di kilometer40  Samarinda ada hutan lindung baru 70 Ha yang dikelola kembangkan menjadi 300 ha-an untuk tempat rekreasi keluarga…” Saya hanya bengong aja, siapa ya yang saya harus hubungi…? ( nanti saya akan ceriterakan dalam program peternakan sapi ” Sultan Bruney Bolkiah ).

Lain lagi ceritera Bupati Kutai Kertanegara, Pak Syaukani, kabupaten terkaya di Kaltim karena daerahnya sumber “emas hitam” penghasil devisa negara, sehingga Pak Syaukani  kelimpahan dana yang bikin dia lupa daratan. Pembangunanya mengutamakan Pemerintah Pusat dekat dengannya dan gaya nya niruselebritis dengan pacuan kuda hobinya…, prioritas pembangunaanya mengarah kekota metropolitan, sebuah pulau di Tenggarong dijadikan mirif Ancolnya DKI, diatas sungai Mahakam, terbentang  jembatan LA, yang kalau malam hari memang mirif jembatan “Lenteng Agung” dengan lampu yang terang benderang dijadikan tempat “randewu” nya para remaja. Cara  koleganya juga lain dalam menawarkan proyek2 nya, yaitu gaya Keluarga Cendana..” to..ni ada proyek buat Jembatan, sekian M…saya minta komisi sekian saja…jika tidak mau saya akan lelang saja ke rekan lainnya…”

Aku yakin, para pembaca tahukan ujung ceriteranya ? Pak Awang Faroek  jadi Gubernur Kaltim dan selebritis di Los Angeles, sedangkan Pak Syaukani di hotel Prodeo…..

Ada satu hal untuk Prof.Dr.Ir. Daday Ruhiyat: ” Kapan tuh menutup yang sudah terlanjur jadi padang pasir di Batu Kajang akibat pertambangan batubara …yang sangat liar…40 km kali 60 km sudah nampak memandang lautan padang pasir…dan serbuk carbon yang tiap hari terhisap paru2 anak2 Dayak yang tetap miskin dan terlantar ???      Walahu a’lam.

Mpu Gandring VS Ketok Magic

Februari 14th, 2010 by tatowillem

Waktu itu, tahun 1978/77 ada satuan tugas yang dibentuk oleh  Alm. Herudi Kartowisastro, mantan Direktur Lembaga Instrumentasi Nasional, dalam rangka program pembentukan Jaringan Kalibrasi Nasional (JKN), yang menghasilkan  9 JKN untuk seluruh Indonesia ditahun ‘80 han.

Saya dapat tugas mendampingi seorang tenaga akhli mekanik berkebangsaan Sweden yang disponsori oleh UNDP/UNESCO untuk menjadi guide keliling di kota2 pulau Jawa. Kota2 yang dikunjungi adalah Surabaya, Jogyakarta, Magelang, Tegal, Juana/Jepara dan kembali ke Bandung.

Ditemukan didaerah Juana dan Tegal ada teknologi kearifan lokal yang menakjubkan kelas dunia yang dibiarkan oleh “Penguasa” begitu saja.

Di kota Juana, ditemukan para pakar kelas dunia dalam hal pengecoran logam dari bahan kuningan.  Mengapa demikian ? Karena para Insinyur Indonesia KO semuanya, termasuk MIDC yang kantornya terletak di jl. Sangkuriang, disitu juga ada kantor2 : Penelitian Bahan2, Lembaga Metalurgi Nasional dsb.  Merekalah yang memenangkan tender pruduksi pertama untuk membuat cor kuningan untuk badan meteran air, mungkin  sekarang ada terpasang disetiap rumah anda yang sudah memasang air PDAM awal tahun ‘80 han di rumahnya.  Tidak tanggung2 order awal sekitar 300 ribu buah. Bengkel di Juana itu tiap buah meteran  membutuhkan bahan 195 gram kuningan saja. MIDC saat itu hanya mampu membikin 205 gram per buah, padahal mereka sudah punya tenaga akhlinya dari Belgia, dibawah Departemen Perindustian lagi.  Bravo cucu2 Mpu Gandring ! Kalian tetap terlantar…

Di kota Tegal, lain lagi ceriteranya. Mereka bisa meniru memproduksi spare part apa saja, dan saya pernah diingatkan waktu masih di Bandung, sebelum berangkat oleh Ir. Sutrisno Mastar, seorang rekanku asal kota Garut..” To, hati2 jika berdialog dengan mereka, mereka mungkin keturunan Mpu Gandring meskipun bukan anak sekolahan, dalam pengetahuan “manufacturing” mereka jawaranya, jangan menggurui dan pertanyaan konyol. nanti kamu malu !”.  Pernah produk Tegal yang terkenal dengan pompa air merk “Dragon” yang persis sama dengan buatan Jepang.  Para bengkel inipun “ditelantarkan”….seandainya para Insinyur ITB turun tangan mau membantu mereka untuk meningkatkan mutu bahan2 yang digunakannya..sekarang industri apa yang mau dibuat, orang Tegal siap kalahkan produk spare part Jepang ! Mereka bukan hanya akhli “Warteg”  saja Bro !     Bravo cucu2 Mpu Gandring !

Disini saya akan mencoba  bahas mengapa kita tidak bisa menyerap kemampuan yang ada di sekitar kita untuk ditingkatkan menjadi cikal bakal bagian dari perindustrian negara. (Mungkin) sekarang kita sudah ketinggalan lagi oleh negara China yang sebentar lagi jadi negara Super Power baru. Padahal saat itu tanda2 keunggulan kita dikawasan Asia sudah nampak.

Ya kita tidak bisa menyalahkan sejarah, mengapa Mpu Gandring kok tidak pernah menurunkan ilmunya kepada para cucunya ? Saya baru bisa menghayati siapa itu Mpu Gandring setelah baca bukunya “Arok-Dedes” nya karangan Alm. Pramudiya Ananta Tur. Digambarkan bahwa Mpu ini punya bengkel besi yang biasa bikin peralatan2 perang, yang terkenal Mpu bikin senjata berupa keris atas pesanan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.  Sayang guru2 sejarah menceriterakannya seperti ke hal2 yang sangat mistis, seperti buat keris itu beliau bertapa/semedi dls.

Saya yakin masih bisa ada harapan untuk bangkit kembali, bahwa nenek moyang kita sebenarnya sudah mengenal teknologi, mengapa tidak digali oleh para Insinyur kita ?. Coba dekati dan berdiskusi mengapa harus ada Ketok Magic ??? Itu kan keakhlian2 unggul dari budaya tertutup, yang akhirnya kita2 ini tetap tidak bisa maju bersama menyongsong masa kedepan yang lebih inovative lagi.

Harapan saya, ayo ITB, ITS, berlomba untuk angkat itu kearifan lokal untuk bertanding di kelas dunia, bahwa kita punya banyak jawara2 teknologi seperti di Juwana dan Tegal. Atau sudah saatnya di Indonesia memberikan gelar pada para tukang yang ada dilapangan/masyarakat , sebagai ” Tukang Insinyur “.  Yang baru ada baru di militer, seorang lulusan SMP bisa jadi Jenderal…. Besar lagi.   Walahu a’lam

Ma’af Pak Tato, Bapak Walikota …

Februari 11th, 2010 by tatowillem

Kejadian langka ini terjadi waktu Reformasi jilid pertama ( jilid ke-duanya lagi ditunggu lho !) yang dinahkodai oleh Bapak Amin Rais.

Ada sekitar 10 orang warga Cikabuyutan yang memperbincangkan bagaimana agar  punya kios di Jln. Cidangiang Baranangsiang Bogor. Karena merasa lebih berhak pakai, sedangkan yang sudah ada saja, pusat jajanan Baranangsiang yang disponsori oleh IPB itu ternyata dikelola oleh orang2 luar, sebagai urban pendatang.

Waktu itu kondisi disemua kota2 besar lagi rame2-nya demonstrasi untuk menurunkan Presiden Suharto. Wah ini kesempatan terbaik untuk melakukan “gerilya” untuk membangun kios ditanah trotoar yang nyambung dengan kios2 yang sudah ada. Saya setuju, tapi bangunanya jangan permanen dulu, sebab perijinanya belum ada. “ok” kata rekan2 lainnya, pembangunan dijalankan dan permohonan ijin ke Bapak Walikota juga diajukan. Biaya pertama untuk pembangunan perkios ditetapkan sebesar 3,5 juta rupiah untuk dibuat satu model yang sederhana saja dan diborongkan ke tukang yang dimandori oleh rekan yang selalu bersedia disitu.
Seperti biasa saya punya skedul kerja 2 mingguan, 2 minggu kerja di lapangan Muara Badak, Samarinda dan 2 minggu berikutnya aku nganggur di Bogor. Waktu “field break”, begitu saya nginjak jalan Cidangiang yang selalu saya lewati, aku baru saja datang dari Balikpapan lewat Halim Perdana Kusumah, saya kaget…ternyata bangunan selama 2 mingguan ada yang dikerjakan sendiri2, dengan luas bangunan @ 3 kali 3 meter, malahan ada yang dipasang rolling door segala. Aku bergumam sendirian didepan kios bagian saya yang masih sederhana hanya beratap asbes dengan dinding masih terbuka, ” wah wah.., ini pasti akan bermasalah…akan ada penggusuran..” karena ijin mendirikan bangunan dari walikota pasti belum turun.

Besok harinya kami berbincang di kios yang lagi dibangun, kenapa kios dibangun permanen, padahal saya ingatkan untuk tahap pertama dibangun dengan sederhana dulu. Pembangunan kios yang peruntukan saya distop dulu.

Disuatu pagi, orang2 rame baca koran Jayakarta, sebuah koran terbitan Ibukota, memuat headline yang intinya sebuah pitnahan (wartawan pada berani…ya karena lagi reformasi) yaitu bahwa Bapak Walikota Bogor memperjual belikan kios di pusat jajanan Baranangsiang samping Gedung Alumni IPB Bogor. Dengan harga perkios sekian juta rupiah.
Tiga hari berikutnya…ada pejabat yang “ngamuk”, tidak terima pitnahan dari koran Jayakarta….buldozer pak Walikota meratakan kesepuluh kios2 yang sedang dibangun tsb. Suasana panas, tegang hampir terjadi perkelahian massal…..saya dengan hati yang panas juga, tidak habis pikir, kenapa tidak pakai cara2 yang lebih elegan, dibicarakan terlebih dahulu dan tidak dihancurkan langsung, kan bisa dibongkar dengan baik2 sehingga materialnya bisa dimampaatkan kembali !

Saya diam2, kembali kerumah untuk menyelesaikanya dengan cara2 yang santun. Data2 pribadi Bapak Walikora saya cari dari teman di Bandung, apakah si “ANU” ini bersih saat “DIA” menjabat apa saja selagi di Bandung ??  Ternyata mereka kelompok KKN nya rezim Suharto juga, mana ada pejabat Orde Baru yang bersih saat itu !!

Saya mulai tulis surat kepada Yang Terhormat Bapak Walikota Bogor di Tempat….yang intinya bahwa perbuatan meratakan kios di Jln. Cidangiang itu kesalahan BESAR, karena jika ada koran yang mempitnah..kan ada hak jawab dulu dikoran tsb, dan sudah banyak yang baca !! Untuk hak menyanggah ketidak benaran, malahan Walikota bisa tuntut balik, bahwa itu tidak benar..pitnah..lebih keji dari pembunuhan dsb..dsb….ya maklum lah kan sudah banyak kasus2 Walikota Bogor sebelumnya,  juga ada yang suka ehm…korupsi. Jadi seperti kebakaran jenggot-lah. Isi surat intinya minta ganti rugi untuk bahan2 bangunan yang dihancurkan tsb. Tidak lupa dibuat arsipnya.

Surat itu saya kirim langsung ke Rumah Dinas Walikota Bogor yang wah megahnya di jalan Pajajaran, didepan Restoran Lembur Kuring”. Surat diterima oleh penjaga, dan saya tulis nama saya di buku tamu, dan saya tulis bahwa saya menyerahkan surat aduan kepada Bapak Walikota Bogor YTH.

Saya tunggu 3 hari belum ada jawaban, saya kirim lagi surat aduan yang kedua, isi suratnya tetap tetapi dengan di CC kan kepada Ketua DPRD dan Camat serta Kepala Desa Bogor Tengah…… SSSt padahal CC-nya itu tidak saya kirim, hanya disimpan sebagai arsip.  Ditunggu 3 hari berikutnya, belum ada jawaban juga. Saya layangkan lagi surat aduan ketiga dengan tambahan CC-nya ke Gubernur Jabar, Ketua DPRD Jabar dan DPR Pusat Jakarta ( hehe ini pun sebenarnya tidak dikirim berhubung tidak ada dananya, hanya sebagai arsip saja).
Inipun saya tunggu selama 2 hari, eh ternyata hari ke 3…”Akhirnya Datang Juga”…tapi diwakilkan ke Pak Camat-nya serta Kepala Desa Baranangsiang. Pak Camat menyapa duluan..” Pak tato, ma’af Pak Walikota tidak bisa datang menemui Bapak, Saya diutus beliau untuk bertemu dengan Bapak….( Waduhhh hidungku tambah besaaaar, merasa tersanjung juga ).

Akhir cerita, kita bersepuluh diberi kesempatan datang ke Kantor Walikota Bogor untuk mengurus perizinannya untuk membangun kios2 di Pusat Jajanan Baranangsiang.

Sekarang di lokasi itu bukan main ramainya , masalahnya didepan kios ada Terminal DAMRI Bogor- Soekarno-Hatta Internasional Airport dan Hypermaket IPB.

Wassallam,

Kenapa ya Tahu Sumedang eunak !

Februari 10th, 2010 by tatowillem

Kejadian ini tahun 1985-an, saat ada seminar ” Safety Meeting” di Gunung Bakaran, Balikpapan.

Dalam panduan sebagai Trainer, salah satunya adalah hati2 waktu pembelajaran/pembicaraan saat setelah makan siang, biasanya peserta pada ngantuk, hindari memutar film/video, isilah dengan joke2 ringan.
Ternyata Pak Iwan, orang Palembang ini betul2 mempraktekannya. Saat pembicaraan dimulai. dia nanya ke saudara Duddy Hidayat, yang kebetulan orang Sumedang asli. Iwan menanyakan “mengapa makanan khas tahu dari Sumedang eunak sekali”, dan Duddy disuruh menjelaskannya di audium dihadapan para peserta seminar itu.
Dengan seurieus sekali dia menjelaskannya mulai dari letak kota Sumedang, sampai sungai Cipeles, bahwa intinya disebabkan faktor alami yang menunjang sehingga Tahu Sumedang tersebut punya cita rasa yang gurih dan enak tsb.

Tiba2 Pak Iwan nyeletuk, “ah bukan itu faktornya Pak Duddy ! “…para peserta seminar kaget, kok begitu…jadi orang2 bersemangat untuk mengetahui apa jawaban yang pastinya.
Jawaban Pak Iwan sangat sederhana;” mengapa Tahu Sumedang eunak sekali…karena ada “U” nya…..coba ganti dengan huruf “I”…jadi tidak enak-kan ??.
Para peserta seminar yang punya otak encer langsung pada tertawa terbahak hahahahahahaha, tapi kasihan yang otaknya TELMI alias telat mikirnya, baru tertawannya belakangan..hehehehehe.

Ingin mengetahui sikap Duddy Hidayat ?……….dengan muka merah padam, langsung kembali ketempat duduknya sambil ngumpat…” Itu nggak lucu ! “.
Saya termasuk yang tertawa belakangan..kok saya juga baru mengetahuinya belakangan ini ! Padahal saya juga orang asli Sumedang lho !! Bravo Pak Iwan Setiawan !!.

 Seminar dilanjutkan dengan muka ceria semuanya, kecuali si Duddy Hidayat itu masih tetap dengan mimik mukanya cemberut.

Kebun Cengkeh si Tomy di Tulung Agung

Februari 6th, 2010 by tatowillem

Kalau ceritera ini aku sangat terharu, masgul, bercampur aduk dengan kegembiraan tiada tara, seorang mantan preman ibu kota sanggup membeli kebun cengkeh dengan transaksi jarak jauh antara Athens - Tulung Agung.

Perkenalan pertama dengan Tomy ini, saat dia makan disebuah Restoran dikawasan Pireas, sebuah pelabuhan ferry terkenal di Greece, masih dekat dengan Athens. Kenalan sepintas begitu saja, tidak berkesan apa2.

Setelah lima bulan, kami ketemu lagi didaerah Patission, Athens, dan mengundang datang ke apartmentnya, ada acara ulang tahunan waktu itu. Pertemuan berikutnya, saat penggantian tahun baru 2009, dia mengajak merayakanya bersama di taman Syntagma , ber-ramai2 menonton kembang api saat detik2 penggantian tahun baru 1 Januari 2009.    Xronya pola !

Pada tanggal 11 Maret 2009, tiba2 Tomy menelpon aku, bahwa di Anavissos, sebuah pantai yang indah dikawasan selatan Athens, ada kerjaan untuk mempersiapkan sebuah rumah musim panasnya seorang keluarga kaya Greek. Akhirnya aku kerja bersama si Tomy ini.

Ternyata “Ucok” Tomy ini punya sifat keras, selalu memandang negatif keorang, maklum mantan preman jalanan Tanjung Priuk, anak Batak lagi. Dia belum tahu, siapa aku sebenarnya. Disini aku belajar sabar, sebenar benarnya sabar. Kita tahu kan orang Batak kalau berbicara, seluruh kampung bisa dengar. Buat  aku ini tantangan baru, sebab aku sudah biasa “menaklukan” Batak2 BTL saat kerja di Roy M Huffington, Muara Badak, Kaltim. ( saya punya kebanggaan tersendiri, 2 orang Batak BTL jadi orang; Runti Sihombing dan Johny Aritonang, mau dengar omongan, kerja keras dan belajar).

Baru setelah lima bulan aku “bersabar”, ada titik terang komunikasi ada pada kondisi ” I’m OK, you’re OK “. Saat2 luang aku manfa’atkan untuk ngobrol hal2 yang positif. ” tom, Singapore itu bisa maju seperti sekarang ini karena saat dipimpin mantan Perdana Menteri Lee Kwan You (ma’af  jika salah tulis), salah satu kegiatanya adalah memanggil para manager yang gagal dan disuruh mempresentasikannya dihadapan beliau..”  Nah, kau bisa jadi orang, jika kau mau dengar aku, sebab aku ini termasuk juga salah satu manager yang gagal dalam berbisnis…hahaha, sambil terkekeh.

Pelajaran pertama: dalam usaha mendatangkan uang, kita seharusnya punya penghasilan; harian, mingguan, bulanan, triwulanan, setengah tahunan dan tahunan. Si Tomy otaknya mulai encer, dia mulai mengemukakan pendapatnya, meskipun kadang2 masih berkelakar. Dia bergumam : ” untuk harian punya kios, jual premium 2 tak atau mutar uang jadi rentenir, untuk bulanan..punya kos2an, mengontrakan kamar..untuk triwulanan punya bengkel onderdil kendaraan bersama adik yang di Bali…”

Pelajaran kedua: “..tom, kamu tahukan tokoh jalanan Anton Medan dan Johny Indo, di hari tuanya mereka memilih hidup yang lebih baik…kau juga bisa…Tomy menjawab : gini2 To, gue pernah aktif di paduan suara Gereja Batak. Ok aku rencana nanti jika sudah berkeluarga akan aktif kembali ke Gereja, seluruh keluarga aku akan ajak harus aktif di gereja kembali. Disini saya menanamkan akidah : Ikhtiar, bekerja keras, berdo’a..so’al hasil serahkan kepadaNYa..jangan putus asa, itu dosa ! Setelah mengerjakan satu hal, cari pekerjaan lainnya !

Pelajaran ketiga: ” tom..selera manajemen kamu itu termasuk “manajement terror, tidak apa2, tetapi kurang effektif…”  Saya jelaskan yang dimaksudnya, jika kau mau menolong orang, caranya jangan “harus” tangan besi, kaya tentara saja…,nanti orang yang mau ditolong malahan jadi tidak mau, karena salah caranya..ya jadi salah terima. Tomy malah nambahi, itu cara gue To ! Gue sulit merubah style -ku ! Aku pernah dididik Menhan( Resimen Pertahanan Mahasiswa ) saat kuliah di pelayaran, dan pernah jadi Satpam Supermarket.

Pelajaran Ke-empat: Beri Semangat. ” tom kamu tahukan, Muchtar Pakpahan ? organisasi buruhnya itu lahir di Muara Badak tau ngak lu !, dia pandai menggalang para buruh kontrak di pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Dengan itu dia loncat ke Pusat dan jadi orang..dengan khas pakai peci ala Bung Karno. Masa kau masih satu marga tidak mau jadi orang ? .

OK…To, kita kembali kesemula…untuk bisnis tahunan aku punya dua pilihan, kesatu; aku akan beli tanah buat bengkel motor, yang akan menjalankan adiku dari Bali itu, dia akhlinya ! Kedua; ada kebun cengkeh di Tulung Agung yang sudah ada tanda2 berbuah, saya jawab : “jika uangnya cukup..beli dua2-nya, tapi jika hanya satu pilihan…beli tuh kebun cengkehnya !

Jumat, tanggal 5 Februari 2010 sekitar jam 19.00 dia pergi ke kios WESTERN UNION di daerah Patission transfer uang ke Tulung Agung sebagai tanda jadi beli kebun cengkeh…aku berujar..” aku siap Tom nengok kebun cengkeh mu, asal dijemput ! Siapa tahu aku ketemu jodoh disana..hehehehe.                          BRAVO RICARDO  PAKPAHAN  !!

Hitungan Kepala

Februari 6th, 2010 by tatowillem

Kejadian ini, sewaktu aku masih di SR, Sekolah Rakyat, belum diganti SD. Nama sekolahnya SR Negeri Tjibeureum I, silahkan tebak sendiri kotanya, karena ada di Puncak Bogor , Sumedang juga ada di Tasikmalaya.

Adalah seorang bapak guru namanya Abdul Rosjid, beliau terkenal seorang guru yang disiplin, tegas, kadang2 keras, dan murid2nya ada rasa takut sebab jika ada anak yang tidak bisa jawab disetrap berdiri didepan kelas, kadang2 ringan tangan kepada anak2 bodoh yang badannya besar.

Tetapi beliau punya kebiasan tidak baik, pada saat pelajaran berhitung dan anak2 disuruh mengerjakan hitungan…nah beliau ini akan nyuruh anak yang paling besar untuk memijat badannya didepan, dimana dia duduk dikursinya, jadi yang memijat itu bebas tidak usah mengerjakan hitungan.

Tanpa beliau sadari, dia ketiduran dikursinya…bersamaan itu, soal berhitung sampai ke bagian “Hitungan Kepala”. Kita bingung, apa maksudnya itu ?  Maklum berbahasa Indonesianya masih terbatas.  Biasa, jika pada saling lihat muka serentak bergumam..bergemuruh, akibatnya membangunkan sang bapak guru yang lagi asyik ketiduran. Serta merta beliau tanya “..bagaimana sudah selesai tugas berhitungnya ?? ” Jawaban kita serentak :  ” Belum, pak Guru !, ini ada kesulitan dalam “so’al hitungan kepala” !. Dengan lantang beliau perintahkan cari tali dari apa saja, kebetulan dekat sekolah banyak pohon pisangnya, maka sebagai pengganti tali benang kita ambil serat dari batang pisang untuk mengukur lingkaran keliling kepala masing2.

Jelas, jawabanya tiap murid ber-beda2, sa’at itu masih ingat ukuran lingkaran kepalaku 52 cm, memang kata orang, kepalaku agak besar…tapi bukan besar kepala lho !!

Nalo

Februari 6th, 2010 by tatowillem

Jika anda pernah remaja jaman Gubernur Ali Sadikin, yang menjadi orang no.1 di Jakarta, maka anda akan tahu Nalo itu “binatang” apa.

Hampir di peloksok pedesaan tanah Parahyangan, hampir semua orang pernah pasang judi buntut, yang mengekor pada lotere yang dibuat oleh kebijakan mantan Gubernur Ali Sadikin.

Yang saya ceriterakan disini adalah bagaimana seorang pemuda, yang disebabkan ketidak mampuan ingin kuliah tapi tidak ada modal untuk biayanya. Kebetulan dia punya kakek yang cukup tahu untuk mengundang jin/jurig buntut. Sang kakek memberi kemenyan yang sudah di-jampi2, yang katanya nanti kau tapa di Lebak A’i di daerah dusun masuk kabupaten Sumedang. dan kemenyanitu dibakar dan duduk seperti sedang tapa disebuah goa hantu.

Persiapanku cukup matang, tidak ada seorangpun yang tahu, termasuk ibu dan bapak. Seperti didalam pelajaran pramuka jika mau kemping,seperti peralatan standar aku bawa tambang injuk dan garam dapur untu berlindung dari serangan ular berbisa, maklum yang aku paling takut ya ke ular itu, kan sudah dididik , kalau jadi manusia jangan mau siperbudak syetan/iblis…tetapi tetap saya lakukan ini semata ingin dapat uang dari judi buntut untuk biaya kuliah…

Saya bersemedi mulai jam 00.00, dengan sebelumnya saya siapkan di gua itu duduk ditikar dan dikelilingi tambang injuk yang ditaburi garam dapur.

eh ternyata saya ketiduran…dan bangun karena kedengaran sayup2 kedinginan karena diluar ternyata hujan….lama2 basah juga karena ada angin berhembus kepertapaan saya. Waktu kira2 jam 4 pagi ngak tahan juga akhirnya sambil kehujanan saya keluar untuk bertedu disaung sawah Kakek, ya nyamanlah karena bisa bikin api unggun…sedangkan nomor yang dicari tidak dapat…mungkin aku disegani juga ya oleh mereka …karena aku sudah dididik ” tooo, kamu jangan mau jadi budak syetan/iblis….Walahu a’lam